|
Title: Pasca Gempa Bantul Yogyakarta View count: 11243 Rating: 5.0 (1 ratings) Description: CERITA DARI GUNUNG SEMPU PASCA GEMPA Sekitar pukul 7.00 WIB Pasca Gempa 27 Mei 2006, kondisi sepertinya sudah mulai tenang. Warga mulai melakukan aktifitas rutin pagi hari seperti mandi dan membersihkan rumah. Maka Ibu, Aunty dan mbak Karni menyiapkan mandi Vari di halaman belakang rumah. Baju ganti juga disiapkan di luar, karena kami belum berani berlama-lama di dalam rumah. Selesai Vari mandi dan Ibu bungkus dengan handuk, terdengar suara ramai orang berteriak-teriak "Airnya naiiik!!!! Airnya naik!!! Tsunami!!!" kontan Ibu menggendong Vari yang hanya berselimut handuk lalu berlari sambil menyambar pakaian ganti. Ketika kami sampai di depan rumah terlihat ribuan orang dari kampung sekitar kompleks mulai nenek-nenek, kakek-kakek, ibu hamil, dan orang-orang muda berbondong-bondong berjalan, menaiki motor ataupun mobil mendaki bukit Sempu (keterangan: perumahan Gunung Sempu tempat tinggal kami adalah daerah perbukitan yang merupakan daerah tertinggi di wilayah kami). Aunty Dewi segera menaiki motor sambil berteriak supaya mbah Kakung dan mbak Karni segera naik ke bukit juga. Mbak Karni yang kebingungan tidak mengerti ada apa segera saja berlari, bergabung dengan massa. Sedangkan mbah Kakung sempat ngeyel mau tinggal di rumah saja, namun karena melihat wajah kami yang pucat pasi akhirnya mbah Kakung ikut naik juga dengan mengendarai motor. Cukup lama juga perjalanan menuju ke bukit yang jaraknya sekitar 150 meter karena padatnya massa yang menuju kesana. Ada tiga tempat tujuan mengungsi yaitu Masjid, gereja dan PusDikLat propinsi yang berada di puncak bukit. Kami sekeluarga menuju Masjid. Langsung berkelebat di benak Ibu tragedi Aceh. Air bah menerjang, rumah-rumah roboh, segala benda hanyut, ribuan orang meninggal... Ya Allah.. selamatkanlah kami. Dzikir tak lepas dari mulut kami, Ibu peluk Vari erat-erat, sedangkan Vari hanya bengong saja melihat orang-orang yang panik. Sampai di Masjid, Ibu memakaikan pakaian Vari dan ketemu dengan Mak'e, yang dulu pernah membantu di rumah kami, bertanya ada apa. Kata Mak'e ada tsunami. Air Pantai Selatan meluap dan sekarang sudah sampai Srandakan. Lalu Ibu kebingungan mencari Ayah dan Om Yudha yang ketika Ibu keluar dari gang rumah Uti sudah sempat terlihat. Telpon tidak bisa terhubung semua. Ibu semakin panik tapi mbah Kakung menenangkan, kata mbah Kakung, seandainya benar ada tsunami, Insya Allah kami aman, karena puncak Gunung Sempu ini tingginya 111 m di atas permukaan laut, sedangkan rumah kami 98 m di atas permukaan laut (mbah Kakung tahu persis data tersebut karena dulu kantor mbah Kakung yang membangun kompleks ini). Agak tenang sedikit memang, tapi tetap saja tidak bisa mengobati kepanikan. Apalagi ketika Vari bilang "maem.." duuh! Ibu semakin nelangsa, Vari pasti lapar karena memang sejak bangun tadi baru maem biscuit sepotong saja. Alhamdulillah, tak lama kemudian Ayah dan Om Yudha muncul. Kata mereka, tidak apa-apa, tenang saja, Insya Allah tidak ada tsunami. Tapi melihat orang yang masih berbondong-bondong naik dengan membawa cerita masing-masing yang tidak selalu sama ditambah suara isak tangis, rasa panik itu belum juga reda. Apalagi ketika ada SMS dari Lucy yang mengabarkan "Tsunami! Segera Mengungsi". Ibu tambah panik. Berarti berita ini mungkin benar, karena Lucy yang tinggal di kota juga mengetahui berita ini. Untuk mencari informasi yang akurat, orang-orang yang membawa mobil segera menghidupkan radio. Kemudian didapat berita "Itu Hanya Isu!!! Keadaan aman. Laut memang sempat naik, tapi sekarang sudah tenang". Alhamdulillah, kelegaan mulai merayapi kami. Tapi masih sangat sedikit orang yang beranjak dari tempatnya. Kami termasuk yang masih tinggal disitu untuk memastikan bahwa keadaan benar-benar aman. Tags: jogjakarta, earthquake, gempa, bantul, yogyakarta, indonesia, kasongan, Author: wanawotvideo |