|
Title: Joe Satriani, Gempa Bantul Yogya, Alway With Me View count: 1408 Rating: 5.0 (1 ratings) Description: Pada saat terjadi gempa Jogja 27 May 2006, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Pagi itu cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini. Begitu gempa mereka langsung lari tunggang langgang menjauhi pantai. Kepanikan tidak hanya terjadi di tepi pantai. Hampir semua warga yang saat itu merasakan gempa juga ketakutan. Situasi mencekam terjadi di Desa Sidomulyo, Bantul karena 90 persen rumah di daerah itu rata dengan tanah. Hewan ternak dan sepeda motor tidak terselamatkan, ikut terkubur bersama material rumah yang runtuh. Sugiyanto (35), warga setempat menceritakan, dia dan keluarganya terkunci di dalam rumah. Karena panik dia tidak bisa membuka pintu itu. Akhirnya, bersama lima anggota keluarganya dia mendobrak pintu sekuat tenaga. "Selang beberapa menit kemudian rumah kami rata dengan tanah," katanya. Warga bertambah panik ketika pada pukul 08.00 terjadi gempa susulan berkekuatan 5,2 SR dan pukul 09.00 terjadi sekitar 10 gempa susulan berskala kecil. Suasana makin mencekam ketika muncul isu gelombang tsunami sudah mencapai Bantul. Ribuan warga dengan menumpang mobil, sepeda motor atau berjalan kaki berbondong-bondong menuju daerah yang lebih tinggi. Sebagian lari ke Kaliurang dan Magelang, sebagian lagi ke arah Solo. Suara Merdeka yang menelusuri Jalan Parangtritis hingga ke bagian pantai mendapati hampir sebagian besar bangunan rumah rusak. Demikian pula di lokasi-lokasi lainnya. Salah satu dari dua bangunan dua lantai Kantor BPKP DIY di Jalan Parangtritis Km 5,5 roboh. Di Kecamatan Bambang Lipuro jalan sepanjang 15 meter ambles. Demikian di sepanjang Jalan Bantul di beberapa lokasi terjadi rekahan. Pada malam hari banyak warga yang terpaksa mendirikan tenda di luar rumah, bahkan ada yang di pinggir jalan. Mereka khawatir terjadi lagi gempa susulan. Belum lagi aliran listrik baik di wilayah Bantul dan sebagian Yogyakarta masih padam. Akibat gempa sistem komunikasi melalui telepon rumah maupun telepon seluler terganggu. Arus lalu-lintas Yogya-Solo macet beberapa jam. Setelah itu suasana lebih lengang. Di beberapa jalur ke arah Solo, Magelang dan Purworejo terlihat puluhan orang menunggu angkutan umum. Hingga pukul 10.00, bus angkutan umum hampir tak ada yang terlihat di jalan. Kesempatan itu dimanfaatkan para sopir taksi untuk mengangkut penumpang yang ingin meninggalkan Yogya. Dampak gempa terlihat di hampir seluruh wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat. Di wilayah utara provinsi itu kerusakan relatif ringan, antara lain berupa genteng melorot dan pagar tembok roboh. Sebaliknya, di wilayah selatan dan timur, khususnya Bantul dan Gunungkidul beberapa desa nyaris rata dengan tanah. Begitu juga dengan sejumlah desa di Klaten. Sejak dari Sleman kerusakan rumah akibat gempa mulai terlihat. Genteng rumah berguguran dan tembok teras roboh. Sejumlah rumah bertingkat di kawasan Maguwoharjo Sleman hancur total. Yogyakarta dan sekitarnya benar-benar porak-poranda. Mengutip hasil pengamatan United State Geology Survey (USGS) Amerika Serikat, dan pakar gempa tektonik dari UII Yogyakarta Ir Sarwidi MSCE pergeseran lapisan tanah itu terjadi 40 kilometer lepas Pantai Parangtritis, Bantul. Di kabupaten itu dilaporkan bangunan rusak (sampai saat itu) mencapai 3.824 buah, yang tersebar di 17 kecamatan. USGS menerangkan, setelah gempa pada pukul 05.54 terjadi sekitar 50 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar terjadi pukul 08.00 berkekuatan 5,2 SR, pukul 10.00 sekitar 4,1 SR, dan pukul 16.00 kekuatannya sudah berkurang. Menurut Bupati Bantul Idham Samawi, dari 17 kecamatan di Bantul, tercatat 5 kecamatan mengalami kerusakan cukup parah. Dikatakannya obat-obatan juga sudah habis. "Gudang farmasi sudah kita bongkar paksa karena tidak ada kunci. Tetapi semua obat saat ini sudah habis," tegas Idham. Gempa juga meruntuhkan ruang tunggu penerbangan domestik Bandara Adi Sucipto dan merusakkan beberapa fasilitas penerbangan. Akibatnya selama 24 jam jadwal penerbangan dari Yogyakarta dibatalkan. Pada tahun 1867 di Yogyakarta pernah terjadi gempa bumi yang merobohkan 372 rumah, 5 orang meninggal dunia. Pada Tahun 1943 terjadi lagi, 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka. Tahun 1981 gempa di Yogyakarta mengakibatkan dinding Hotel Ambarukmo retak-retak. Tags: satriani, gempa, bantul, yogya, alway, indonesia, Author: wanawotvideo |