|
Title: Isu Tsunami, Gempa Bantul Yogyakarta View count: 7344 Rating: 5.0 (2 ratings) Description: Aku ingat benar, hari itu jum'at malam. Agak larut aku pulang kerumah, biasanya jam 05.30 sudah bangun dan ber-siap2 berangkat kerja. Tapi pagi itu aku masih terlelap. aku kebetulan tidur disamping Mbah Putri-ku. biasanya pagi2 beliau sudah bangun, menyapu halaman. Pagi itu tidak. Hari itu, Sabtu tanggal 27 Mei 2006. Sekitar pukul 5.54 akhirnya aku terbangun .. karena merasa kasur kami bergerak- gerak .. wahhh gempa bumi!! Langsung aku ingat Merapi dalam status siaga. Aku melihat benda2 mulai berjatuhan. Kubangunkan Mbahku. Kuajak dia turun dan menyelamatkan diri, tetapi berdiri saja beliau tidak bisa karena kaget, kucoba gendong beliau tetapi tidak kuat. Kupanggil Ibu dan mas2ku tetapi tidak ada jawaban. Hanya terdengar bunyi barang2 berjatuhan. Mengerikan sekali. aku tidak mungkin lari sendiri dan meninggalkan Mbahku itu. jadi ketika mulai kudengar beliau berdoa, menyebut-nyebut nama Tuhan, tanpa sadar kulihat cincin dijariku .. teringat suamiku... Kepeluk Mbahku dan pasrah... Tiba2 setelah 57 detik (yang rasanya seperti 57 jam) gempa besar berkekuatan 5,9 skala ritcher itu berhenti. Seperti mendapat kekuatan entah dari mana .. kugandeng Mbahku dan kuajak keluar .. material bangunan rumah kami berjatuhan jadi kami keluar dengan hati2. Didepan pintu keluar kakakku sudah menunggu .. langsung Mbahku digandeng dia. Dan aku berlari mencari IBU, kupeluk beliau. Tetapi kakiku terasa lemas ketika aku tidak menemukan adikku .. dia 19 tahun dan malam itu menginap ditempat temannya. Aku lari kerumah dan mengambil HP.. kucoba hubungi dia .. ku SMS dia juga suamiku. tapi service tidak berfungsi. Semua orang melihat kearah Merapi karena berpikir Merapi meletus dan menyebabkan gempa, ternyata Merapi tampak baik2 saja dari kejauhan. Aku tidak menyadari bahwa gempa itu membawa banyak korban meski mulai banyak orang berseliweran membawa orang lain yang tampak berdarah-darah. Kemudian aku ber-siap2 berangkat kerja. Ketika menunggu mini-bus kearah kota .. Ibu dan Mbahku duduk disampingku. Kuminta Ibuku kepasarnya nanti saja kalau sudah tenang (beliau punya warung makan dan setiap pagi ke pasar berbelanja bahan2). Tiba2 setelah beberapa saat dari kejadian gempa .. kulihat ratusan orang dengan motor dan mobil, mereka menyalakan lampu..dan berteriak: "Air..! Air..! Tsunami..! Lari..! Lari !!". Aku panik, kugandeng ibu dan Mbahku, kuajak berjalan mengikuti masa. Tiba2 kakiku lemas dan ingat suami serta adikku. Aku menangis sampai ibu berteriak: "Ayo pergi ketempat lebih tinggi !!". Kulihat mas2ku dan sepupu2ku sudah siap dengan motor .. kami ber-bonceng2an mengikuti arah masa dan lari dari isu tsunami. Suasana sangat kacau .. orang2 berteriak tidak sabar, banyak yang menangis .. anak2, laki2, wanita, bahkan bayi. Kulihat juga orang2 terluka terjebak arus ketika berusaha mencari rumah sakit terdekat. kudengar banyak orang terluka meninggal dunia karena isu tsunami tersebut... karena tidak segera ditolong. Hari itu untuk pertamakalinya kulihat banyak orang terluka dan mayat2 dengan mata kepalaku sendiri. Waktu itu ada petugas berpakaian preman dengan radionya berusaha menenangkan masa dan mengatakan itu hanya isu. Tetapi suara pak petugas itu kalah dengan jumlah masa yang begitu banyak. Kami lari kearah Merapi yang statusnya siaga !!! sepanjang jalan aku menangis, inget suami dan adikku. Tiba2 ibuku yang 'hanya' lulusan SMA, yang 'hanya' penjual makanan itu berkata ..: "Logikanya, kalau ada tsunami tidak akan sampai ke arah kita.. Tempat kita itu kan jauh sekali dari pantai. Kalaupun sampai sini mungkin hanya sedikit air". Hebat wanita itu!! Ketika semua orang dikeluargaku panik ,dia masih bisa berpikir logis. Akhirnya kami kembali kerumah, tapi tidak berani masuk .. tiduran ditanah terbuka karena gempa2 susulan terus terjadi. Hari itu adalah hari terpanjang dalam hidupku. kami tidur diemperan rumah tetangga .. Mengambil kursi2 untuk menutupi dari jalan raya, hujan serta angin menambah penderitaan kami. Tidak ada listrik, hanya suara radio yang terus mengumumkan jumlah korban dan suara ambulance yang setiap 5 menit meraung. Suasana semakin mencekam ketika dari mulut kemulut kami mendengar isu akan ada gempa yang lebih besar. Baru sekali itu dalam hidup, aku merasa begitu takut dengan ketidakpastian akan apa yang terjadi. Tags: jogjakarta, earthquake, gempa, bantul, yogyakarta, indonesia, Author: wanawotvideo |